Cari Blog Ini

Gambar tema oleh Storman. Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Kontributor

Minggu, 15 Oktober 2017

Uang: Aku Tidak Kemana-mana, Tapi Ada Dimana-mana

- Tidak ada komentar
HALLO KENALKAN
Namaku : uang
Nama pangilanku : Duit
Nama tenarku : Money
Di Bali aku di panggil : pipis( jinah )
Di jawa timur di panggil :Duwek
Aku tidak kemana -mana, tapi
Ada dimana-mana



Wajahku biasa saja....
Fisikku juga lemah...
Namun aku mampu merombak tatanan
Dunia....
Aku juga " bisa " merubah prilaku..
Bahkan sifat manusia....
Karena manusia mengidolakan aku...
Banyak orang merubah kepribadian
Dan prilakunya....
Menghianati teman....
Menjual tubuh...
Bahkan meninggalkan agama dan keyakinanya
Demi aku....!!!
Aku tidak mengerti perbedaan orang baik dan orang jahat....
Tapi manusia memakai aku menjadi
Patokan derajat..
Aku bukan iblis
Tapi sering orang melakukan kekejian
Demi aku...!!!
Aku juga bukan orang ketiga...
Tapi banyak suami istri pisah
Gara-gara aku...
Kakak dan adik beradu dan saling benci
karena aku...
Anak dan orang tua berselisih gara-gara
Aku...!!!
Sangat jelas juga aku bukan Tuhan...
Tapi manusia  kadang menyembahku seperti
Tuhan...
Bahkan kerapkali anak manusia
Lebih menghormatiku dari pada
Tuhannya...
Padahal Tuhan sudah berpesan
Jangan di perbudak oleh uang...
Seharusnya aku melayani manusia...
Tapi kenapa malah manusia mau jadi
Budakku...???
Aku tidak pernah mengorbankan diriku
Untuk siapapun...
Tapi banyak orang rela mati demi aku...
Perlu diingat
Aku hanya bisa menjadi alat bayar resep
Obat anda...
Tapi tidak mampu memperpanjang hidup anda...!!!
Kalau suatu hari di panggil
DEWA YAMA DIPATI
Aku tidak bisa menemani anda...
Apalagi menjadi penebus dosa-dosa
anda...
Anda harus menghadap sendiri kepada
SANG PENCIPTA lalu menerima
Pengadilan'NYA...!!!
Saat itu.
SANG SURATMA pasti akan hitung-hitungan dengan anda
ADAKAH SELAMA HIDUP ANDA
MENGGUNAKAN AKU DENGAN BAIK...
ATAU MENJADIKAN AKU
SEBAGAI "TUHAN"...???
# Ini informasi terakhirku..
Aku tidak ada di surga...
Jadi jangan cari aku di sana ya...😇😇😇


# Pesanku :

1. Jangan terlalu sayang dengan aku...!!

2.Gunakan aku untuk bekal kematian

Dengan banyak bersedekah, berdana punia, membatu orang-orang yang
pantas dibantu, jangan lupa banyak
Berdoa dan beryadnya serta bersujud
Kepada TUHAN...
Dan yang utama berkarma yang baik agar aku
jadi Berkah di dunia dan di
Akhirat kelak...!!!😀😀😀
Salam.

Senin, 09 Oktober 2017

Orang Super Kaya Tak Pernah Pamer Label Harga

- Tidak ada komentar
Dengan harta yang dimilikinya, orang-orang kaya memang bisa membeli apa yang ia inginkan berapa pun harganya. Tetapi, orang super kaya biasanya merasa malu jika label harganya terlihat orang lain.

Ahli sosiologi Rachel Sherman, mewawancari 50 orangtua di New York dengan pendapatan minimal 4 miliar rupiah pertahun.

Salah satu kesamaan yang ia temukan dari orang-orang kaya itu adalah mayoritas akan merobek label harga barang yang ia beli sehingga orang lain tak tahu berapa uang yang ia belanjakan.


Dalam esai yang dimuat di New York Times, Sherman menulis tentang seorang wanita yang setiap tahun menghasilkan 4 miliar rupiah dan mewarisi kekayaan keluarga beberapa juta dollar, selalu membuang label harga baju yang baru dibelinya sehingga nanny-nya tidak sampai melihatnya.

"Seorang desainer interior yang saya kenal juga bercerita, salah satu kliennya selalu menyembunyikan harga barang-barang yang ia beli. Semua barang furnitur yang datang ke rumahnya juga harus dihilangkan agar staf di rumah tidak melihatnya," katanya.

Kebiasaan itu menunjukkan pola yang lebih besar, orang super kaya itu menganggap dirinya normal, dan merasa canggung dengan hasil belanjannya karena tidak mau dianggap kaya.

Dalam hal kekayaan atau harta, orang-orang super kaya itu juga tidak pernah menunjukkan bahwa ia "kaya" atau "kelas atas". Menurut Sherman, mayoritas lebih suka istilah "nyaman" atau "beruntung".

Sebagian orang super kaya juga mengelompokkan dirinya ke dalam "kelas menengah" atau "di tengah", karena mereka membandingkan dirinya dengan orang yang lebih kaya lagi.

"Orang-orang yang saya wawancara itu tidak pernah membual tentang harga yang mahal. Mereka justru bersemangat bercerita ketika berhasil menawar harga barang, memberi pakaian di tempat biasa, atau naik mobil tua," katanya.

Apa yang Sherman temukan itu sejalan dengan yang dituliskan Thomas C.Corley dalam bukunya "Rich Habits". Ia melakukan wawancara selama 5 tahun dengan para milyuner untuk mengetahui kebiasaan yang membuat mereka menjadi kaya.

Secara umum, Corley menemukan bahwa orang kaya ingin dianggap sebagai sesuatu yang normal dan mereka ingin lebih dermawan.